By admin on Jul 22, 2011 with Comments 0
Prinsip Seimbang & Lebah Madu
Oleh: Joshua W. Utomo
Keinginan untuk menjadi yang nomer satu seakan telah tak mungkin bisa diubah lagi. Nafsu untuk tak terkalahkan dan tetap menjadi sang pemenang merupakan sebuah nafsu yang wajar dan amat ditumbuh-kembangkan tak hanya di lingkungan pendidikan, namun juga hampir di setiap lini kehidupan kita ini.
Medali perak dan perunggu seakan tak memiliki arti apa-apa, sebab fokus kita hanyalah pada medali emas yang gemerlapan itu. Sebutan Bintang Pelajar, Siswa Teladan, Peringkat Pertama telah membalung-sumsum didalam pola pikir dan angan-angan setiap siswa-siswi (bahkan para orang tua dan guru) kita.
Semangat berkompetisi dan keinginan untuk menjadi siswa/siswi teladan–menjadi seorang Bintang, tentu saja tidak ada salahnya. Tapi pertanyaannya sekarang adalah sejauh mana dan bagaimana semangat kompetisi itu dimengerti dan diterapkan oleh para siswa kita (termasuk para orang tua dan gurunya juga).
Keseimbangan (balancing) adalah kata kunci dalam hal yang amat penting ini. Bila prinsip Seimbang (balance) bisa dipahami dengan benar (baca: dengan seimbang juga) maka penerapannya pun secara otomatis akan terejawantah.
Seperti halnya dengan sektor-sektor kehidupan kita lainnya, apabila prinsip seimbang ini bisa kita terapkan kedalam proses pembelajaran para siswa kita, saya yakin akan menghasilkan sebuah hasil akhir yang secara relatif jauh lebih baik daripada pola pembelajaran berkompetisi tingkat tinggi yang kita saksikan selama ini.
Prinsip Seimbang ini pada dasarnya merupakan proses penajaman dimensi batiniah (akhlak, hati nurani, suksma) dan pembelajaran serta pengasahan hati dan akal budi, sekaligus proses pembelajaran dan penajaman sisi-sisi intelektualitas, daya nalar (logika), talenta seni yang masih merupakan sebuah daya/bakat terpendam (potential) dari setiap anak didik kita.
Melalui penerapan Prinsip Seimbang ini, kita harapkan jumlah ‘wong pinter kang bisane minteri’ (orang pintar yang bisanya mengelabui atau berlaku curang terhadap orang lain) dan ‘wong keminter’ (orang yang sok pintar) bisa dibatasi jumlahnya (atau malah syukur kalau bisa ter-eliminasi).
Bila Prinsip Seimbang ini bisa diterapkan secara sungguh-sungguh, kita akan menjumpai siswa-siswi kita yang tak hanya pintar secara intelektual (IQ), memiliki tingkat kreatifitas seni tingkat tinggi seperti Picasso si maestro, tapi sekaligus dibarengi dengan keluhuran akhlak dan kehalusan budi pekerti.
Kerinduan, keinginan, dan niat hati serta iman (sinergi dengan Yang Ilahi) ini pula yang memampukan dan memampukan kita untuk suatu saat mencapai dimensi mulia itu, sekalipun jalannya amat berliku dan penuh aral dan rintangan.
Konsep manusia yang mengerti ini memang sangat luas cakupan dan definisinya. Manusia yang mengerti bagi Ibu saya (dan Ibu Guru SD itu) juga berarti pandai secara intelektual dan mampu di wacana seni juga sehat secara jasmani.
Indahnya, nasihat kedua wanita berbudi itu bukanlah merupakan sebuah pemaksaan pada saya, tapi merupakan sebuah ajakan yang lembut, sehingga gairah untuk menjalani proses sulit tapi mulia ini bisa terus dileluri.
Inilah keindahan prinsip seimbang itu. Tiada pemaksaan atau pemerkosaan yang malah akhirnya menghasilkan kehancuran.
Dalam konsep manusia yang mengerti ini kita akan menjumpai sebuah standar kesuksesan yang berbeda, sebuah barometer kekayaan yang berbeda, sebuah praktek ‘kompetisi’ yang berbeda, dan sebuah parameter kepandaian yang berbeda pula bila dibandingkan dengan pola kompetisi yang ada di lingkungan pendidikan kita selama ini.
Filed Under: Artikel
About the Author:


